
Yuliana Wujudkan Kaos Lurik untuk Generasi Milenial
Smart Women
Tribun Jateng,
Minggu, 2 Desember 2018
Wastra yang dalam bahasa Sanskerta tersebut memiliki arti kain tradisional punya beragam corak. Bahkan Indonesia yang kaya akan wastra nusantaranya, juga memiliki hasil produk yang berbeda setiap daerahnya.

Sayangnya beberapa generasi milenial saat ini masih ada yang belum memahami kekayaan wastra negerinya sendiri.
Untuk itu, Yuliana Aqni melalui Markonah Indonesia berkeinginan menciptakan busana dari kain tradisional yang bisa disukai kalangan milenial.
Produk pertamanya diberi nama Denlurik atau busana denim yang digabungkan bersama kain lurik pada tahun lalu.
“Produk pertama ini cukup diterima di pasaran, terutama untuk mamah muda yang lebih banyak menyukainya,” jelas dia.
Pada Jumat (23/11) lalu, Yuliana kemudian meluncurkan produk keduanya yang diberi nama Kalulik atau kaus yang dipadukan dengan kain lurik. Kalulik dirancang untuk menyasar target usia yang lebih muda seperti pelajar atau mahasiswa.
Menurutnya, busana tersebut sangat diterima anak muda karena menggunakan bahan katun sehingga nyaman dipakai.
“Kain lurik itu dulu bahannya tebal dan kaku. Tapi sekarang ada lurik yang dibuat menggunakan bahan lebih lembut. Makanya nyaman bila dipakai sehari-hari,” ujar dia.
Yuliana juga memakai warna-warna yang cerah menyesuaikan konsep yang diusung dari brand Markonah Indonesia.
Nama Markonah, diidentikkan sebagai nama wanita yang tradisional namun tetap mengikuti perkembangan zaman.
“Markonah itu saya identikkan wanita muda yang gokil dan lucu. Makanya saya buatnya busana yang berwarna, tetapi tetap melestarikan unsur budayanya,” ujar dia.
Wanita yang sudah merintis usaha sejak 21 April 2017 lalu, telah memiliki tiga seri busana yakni Markonah, Paijo dan Ainun seres.
Jika Maronah series lebih menyasar anak muda, gokil dan bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Dia juga menciptakan Paijo series yang menyediakan kemeja untuk menyasar konsumen pria.
Terakhir, Ainun serius ditujukan untuk konsumen yang suka menggunakan dress kasual, khususnya pada acara-acara resmi.
“Semua seri yang ada ini juga tidak selalu lurik saja yang sayan ambil dari Klaten. Tapi saya juga mengkreasikan wastra lainnya seperti batik dan ulos,” ujar dia.
Peran Yuliana dalam mengkreasikan busana tradisional tersebut semata-mata agar bisa mengenalkan busana tradisional dengan cara berbeda.
Sehingga, kesan anak muda yang menganggap kain traidional tersebut sudah kuno tidak ada lagi.
“Kendalanya memang dalam memperkenalkan lurik ke kelanagn muda nggak gampang. Harus inovatif pada desain biar mereka suka,” jelas dia.
Biarpun masih sedikit yang mulai menyukainya, tetapi diharapkan bisa terus menular ke teman-temannya. Melalui model dan warna yang cerah, maka kesadaran anak muda untuk menggunakannya juga akan meningkat.
“Saat peluncuran produk yang kedua, Kalulik, beberapa mahasiswa juga banyak yang sudah menanyakan produknya dijual atau nggak,” jelas dia.
Dia menjual beragam produk tersebut mulai dari Rp 300 ribuan per potongnya. Media sosial seperti Instagram dan Facebook masih menjadi sarana untuk memasarkan produk Markonah Indonessia.
Dia juga menerima konsumen yang ingin melakukan kustom terhadap busana dengan sistem pre order minimal waktu tunggunya hingga tiga minggu.
Dia juga memberdayakan ibu-ibu di Kabupaten Semarang untuk menjadi rekanan menjahit beberapa busana karyanya.
“Banyak ibu-ibu yang mendapatkan penghasilan dari menjahit, kami ajak untuk bekerja sama agar sekaligus membantu perekonomian mereka,” ujar dia.